KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah
SWT. Berkat limpahan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan
karya tulis ini tepat waktu.
Penulis tetap menyadari bahwa penulisan
karya tulis ini masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh
pengetahuan dan pengalaman penulis yang cukup dangkal dan terbatas.
Kendala ini dapat diatasi karena tidak sedikit perhatian dan bantuan
yang telah diberikan oleh berbagai pihak yang telah membantu
penyelesaiannya. Untuk itu penulis merasa mempunyai hutang budi yang
tidak terhingga, dan dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima
kasih yang setulus-tulusnya dan dari lubuk hati yang paling dalam kepada
:
1. Bapak Sabar Lumbantobing, selaku guru mata pelajaran Bahasa
Indonesia yang telah membimbing penulis dalam penulisan karya tulis ;
2.
Ibu T. G. Simamora, selaku petugas perpustakaan yang telah membantu
penulis dalam menemukan buku referensi untuk penulisan karya tulis ;
3. Orangtua, yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis ;
4. Teman-teman, yang telah membantu penulis dalam menjawab angket yang diperlukan untuk penulisan karya tulis ;
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, telah banyak membantu penulis dalam penulisan karya tulis.
Penulis
berharap karya tulis ini dapat menambah wawasan masyarakat, khususnya
para pelajar, tentang pentingnya pelajaran mengarang.
Terakhir,
penulis tetap terbuka untuk menerima segala bentuk kritikan dan
perbaikan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan ridho, taufiq, dan
karuniaNya kepada kita semua.
Sibolga, Januari 2009
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......... ii
DAFTAR ISI ............. iii
DAFTAR TABEL ........... iv
BAB I PENDAHULUAN ....... 1
1.1 Latar Belakang ........ ....1
1.2 Rumusan Masalah .............1
1.3 Tujuan Penelitian ...........2
1.4 Manfaat Penelitian...........2
BAB II LANDASAN TEORI.......3
2.1 Pengertian Mengarang ........3
2.2 Pengertian Karangan .........3
2.3 Manfaat Mengarang ...........3
2.4 Pentingnya Mengarang.........4
BAB III PROSES PENELITIAN.....6
3.1 Lokasi Penelitian ........6
3.2 Populasi dan Sampel.......6
3.2.1 Populasi................6
3.2.2 Sampel..................6
3.3 Teknik Pengumpulan Data...7
3.4 Teknik Analisa Data.......7
BAB IV HASIL PENELITIAN.......8
4.1 Hasil Angket ............8
4.2 Analisis Data ...........8
BAB V PEMBAHASAN .......... 9
BAB VI PENUTUP .............10
6.1 Kesimpulan ...............10
6.2 Saran ....................10
DAFTAR PUSTAKA ................11
LAMPIRAN .....................12
RIWAYAT HIDUP PENULIS ........ 13
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mengarang
merupakan kemampuan berkomunikasi melalui bahasa yang tingkatannya
paling tinggi. Empat jenjang kemampuan berbahasa yang melekat pada
setiap manusia normal adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
atau mengarang. Secara kronologis, keempatnya tumbuh dalam diri setiap
individu. Pada tingkatan paling sederhana, yaitu dalam wujud kemampuan
berkomunikasi langsung dengan bahasa lisan, kita memiliki kemampuan
menyimak dan berbicara. Selanjutnya tahap yang setingkat lebih tinggi
adalah membaca, dan yang paling rumit adalah menulis atau mengarang
dalam bentuk bahasa tulis.
Atas dasar asumsi di atas, sungguh tepat
bila upaya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia harus
dijembatani dengan menggalakkan kegiatan menulis atau mengarang. Hal ini
disebabkan kemampuan mengarang membutuhkan penguasaan materi-materi
pendukung sebagai modal dasar, seperti penguasaan kosakata, diksi,
penyusunan kalimat, pembentukan paragraph, pemahaman secara aplikatif
tentang ejaan dan tanda baca, logika, serta struktur berpikir yang
runtut.
Pada masa sekarang, khususnya di lingkungan SMA Negeri 1
Unggulan Sibolga, jarang sekali ditemukan siswa yang berminat dengan
pelajaran mengarang. Siswa yang berminat terhadap pelajaran mengarang
bahkan dapat dihitung dengan jari. Mengapa hal itu terjadi? Apa yang
menyebabkan mereka kurang berminat dengan pelajaran mengarang?
1.2 Rumusan Masalah
Menurut
Hadari Nawawi (1985:15), suatu masalah muncul karena tidak terdapatnya
keseimbangan antara yang diharapkan berdasarkan teori-teori atau
buku-buku yang menjadi tolak ukur dengan kenyataan sehingga menimbulkan
pertanyaan mengapa demikian atau apa sebabnya demikian. Di samping itu,
masalah juga dapat muncul karena keragu-raguan tentang keadaan sesuatu
dan kurang objektif.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka rumusan masalah dalam karya ilmiah ini adalah sebagai
berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan mengarang?
2. Apa yang dengan karangan?
3. Apa manfaat mengarang?
4. Mengapa mengarang itu penting?
5. Mengapa siswa SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga kurang berminat terhadap pelajaran mengarang?
6. Apa penyebab siswa SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga kurang berminat terhadap pelajaran mengarang?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
• Mengetahui minat siswa SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga terhadap pelajaran mengarang
• Mengetahui penyebab kurangnya minat siswa SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga terhadap pelajaran mengarang
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
•
Agar siswa SMA Negeri 1 Unggulan yang kurang berminat pada pelajaran
mengarang mengetahui betapa pentingnya kegiatan mengarang.
• Agar siswa SMA Negeri 1 Unggulan yang awalnya kurang berminat pada pelajaran mengarang menjadi berminat.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Mengarang
Mengarang
berarti menyusun atau merangkai. Secara luas, mengarang dapat diartikan
sebagai pekerjaan merangkai kata, kalimat, dan alinea untuk menjabarkan
dan atau mengulas topic dan tema tertentu guna memeperoleh hasil akhir
berupa karangan. Sebagai bahan perbandingan, di sini dikutipkan pendapat
Widyamartaya dan Sudiati (1997:77). Menurut keduanya, mengarang adalah
keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan
menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada para pembaca untuk
dipahami.
2.2 Pengertian Karangan
Karangan merupakan hasil
penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topic
atau pokok bahasan. Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya merupakan
uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea.
2.3 Manfaat Mengarang
Seorang
pengajar karang-mengarang bernama Bernerd Percy dalam bukunya yang
berjudul The Power of Creative Writing mengungkapkan sekurang-kurangnya
ada enam manfaat karang mengarang, yaitu sebagai berikut.
1. Sarana untuk pengungkapan diri
Kadang
hati seseorang dapat begitu tersenuth saat mengalami peristiwa atau
kejadian tertentu sehingga orang itu merasa perlu mengungkapkan gejolak
yang ada dalam dirinya. Cara pengungkapan diri ini biasanya berbeda
antara satu orang dengan orang yang lain. Ada orang yang
mengungkapkannya dengan bersiul-siul, berjingkrak-jingkrak, melahap
makanan dalam jumlah banyak, menciptakan lagu, dan sebagainya. Mengarang
seuntai sajak atau menulis serangkaian kalimat juga merupakan salah
satu sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.
2. Sarana untuk memahami sesuatu
Pada
saat mengarang, seseorang mengungkapkan gagasannya dan menyempurnakan
penangkapannya terhapad sesuatu sehingga akhirnya ia dapat memperoleh
pemahaman yang baru atau yang lebih mendalam tentang hal yang sedang
ditulisnya.
3. Sarana untuk mengembangkan kepuasan pribadi , kebanggaan, dan rasa harga diri
Rasa
bangga, puas, dan harga diri merupakan imbalan dari keberhasilan
seseorang melahirkan suatu karya tulis. Selanjutnya, perasaan itu akan
membangkitkan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri untuk terus
menciptakan karya-karya tulis lainnya.
4. Sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap terhadap lingkungan sekeliling
Dengan
sering mengarang, seseorang dapat mempertinggi kesiagaan indranya dan
mengembangkan daya serapnya pada tingkat jasmani, perasaan, maupun
kerohanian.
5. Sarana untuk melibatkan diri dengan penuh semangat
Dengan
jalan mengarang atau menulis, seseorang dapat mengungkapkan gagasan,
menciptakan sesuatu, dan secara giat melibatkan diri dengan hasil
ciptaannya.
6. Sarana untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan mempergunakan bahasa
Tujuan
paling umum seseorang masuk sekolah adalah untuk mencapai kemampuan
membaca, mengerti apa yang ditulis orang, serta kemampuan memakai
kata-kata dalam tulisan untuk menyampaikan keterangan pada orang lain.
Jelaslah bahwa kegiatan mengarang sangat bermanfaat untuk membantu
tercapainya tujuan tersebut.
2.4 Pentingnya Mengarang
Menurut Hairston (1986), ada beberapa alas an yang dapat dikemukakan mengenai pentingnya mengarang, antara lain sebagai berikut.
1. Sarana untuk menemukan sesuatu
Dengan
menulis, kita dapat merangsang daya piker sehingga bila dilakukan
secara intensif akan dapat membuka penyumbat otak dalam rangka
mengangkat ide dan informasi yang ada di alam bawah sadar pemikiran
kita.
2. Memunculkan ide baru
Hal ini terjadi kalu kita
membuat hubungan antara ide yang satu dengan ide yang lain, kemudian
melihat keterkaitannya secara keseluruhan.
3. Melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide
Pada saat menuliskan berbagai ide tersebut berarti kita harus dapat mengaturnya di dalam suatu bentuk tulisan yang padu.
4. Melatih sikap objektif yang ada pada diri seseorang
Dengan menuliskan ide-ide tersebut ke dalam suatu tulisan, berate kita
akan melatih diri kita untuk membiasakan diri membuat jarak tertentu
terhadap ide yang kita hadapi dan mengevaluasinya.
5. Membantu untuk menyerap dan memproses informasi
Bila kita akan menulis sebuah topic, kita harus belajar tentang topic
itu dengan baik. Apabila kegiatan seperti itu dilakukan terus-menerus
maka kita akan dapat mempertajam kemampuan dalam menyerap dan memproses
informasi.
6. Melatih untuk berpikir aktif
Kegiatan menulis dalam
sebuah bidang ilmu akan memungkinkan kita untuk menjadi aktif dan tidak
hanya menjadi penerima informasi.
Dengan berbagai alasan yang
dikemukakan di atas, jelaslah bahwa mengarang akan membuat kita semakin
arif, pikiran dan perasaan mudah tergerak, serta tanggap dan mampu
memberikan reaksi positif terhadap perkembangan di lingkungan yang
selalu dinamis.
BAB III
PROSES PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan angket kepada para siswa SMA Negeri 1. Unggulan Sibolga.
Responden
yang terpilih adalah respond yang memenuhi syarat, antara lain: sekolah
di SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga dan mengerti apa yang dimaksud dengan
mengarang.
3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di lingkungan SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi
dan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 1994:5).
Dengan
demikian populasi merupakan keseluruhan objek yang diteliti. Dalam
penelitian ini, populasi terdiri dari seluruh siswa SMA Negeri 1
Unggulan Sibolga.
TABEL 1
Jumlah Siswa SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga
No. Kelas Jumlah Siswa
1 X-1 20 orang
2 X-2 20 orang
3 XI IPA 1 20 orang
4 XI IPA 2 20 orang
5 XII IPA 1 20 orang
6 XII IPA 2 20 orang
3.2.2 Sampel
Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam suatu
wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi.
Tetapi apabila yang hendak diteliti hanya sebahagian dari populasi, maka
penelitiannya disebut penelitian sampel.
Sugiyono (1994:7)
menyatakan bahwa sampel adalah sebahagian dari jumlah populasi.
Sedangkan menurut Hadi (Narbuko dan Ahmadi, 1991:107) sampel adalah
sebahagian individu yang diselidiki dari kesuluruhan individu
penelitian.
Dalam penelitian ini, sampel terdiri dari 20 orang siswa
kelas XI IPA 1, 20 orang siswa kelas XI IPA 2, 20 orang siswa kelas XII
IPA 1, dan 20 orang siswa kelas XII IPA 2.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini berpedoman
kepada pendapat Komaruddin (1974:122), sebagai berikut : “Teknik
pengumpulan data yang kerap kali dipergunakan dalam penyelidikan
misalnya wawancara, daftar pertanyaan skala objektif, teknik proyeksi,
dan pengamatan tindak-tanduk.
Atas dasar pernyataan tersebut, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data:
1.
Daftar Pertanyaan (Angket), yaitu teknik pengumpulan data dengan cara
membagikan daftar pertanyaan kepada responden yang ada relevansinya
dengan kegiatan mengarang.
3.4 Teknik Analisa Data
Analisis
data dilakukan dengan cara mengelompokkan responden ke dalam tiga
kelompok, yaitu kelompok pendukung, bukan pendukung, dan acuk tak tidak.
Pengelompokan tersebut diperolah dari hasil pertanyaan-pertanyaan
angket.
Untuk mengambil kesimpulan tentang minat siswa SMA Negeri 1
Unggulan terhadap pelajaran mengarang, dapat dilihat dari hasil analisis
data. Jika kelompok pendukung lebih banyak daripada dua kelompok lain,
maka minat siswa SMA Negeri 1 Unggulan terhadap pelajaran mengarang
dapat dikatakan besar. Sebaliknya, jika dua kelompok lain itu yang lebih
besar maka dapat disimpulkan bahwa minat siswa SMA Negeri 1 Unggulan
terhadap pelajaran mengarang itu kurang atau dapat dikatan mereka tidak
berminat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Angket
Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka. Angket
ditujukan untuk mengetahui secara umum gambaran bagaimana ketertarikan
responden terhadap pelajaran mengarang.
4.2 Analisis data
Pengelompokan penjawab dibagi menjadi tiga, yaitu kelompok A: kelompok
pendukung, B: kelompok bukan pendukung, dan C: kelompok yang acuh tak
acuh. berdasarkan data selanjutnya dapat dihitung kelompok siswa yang
termasuk memilih A, B, atau C.
• Kelompok A :
13 siswa x 100%= 16,25%
• Kelompok B :
49 siswa x 100%=61,25%
• Kelompok C :
18 siswa x 100%= 22,5%
TABEL 2
Hasil Persentase Angket
No. Kelompok Persentase
1 A 16,25%
2 B 61,25%
3 C 22,5%
BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan
penelitian, diperoleh hasil bahwa siswa SMA Negeri 1 Unggulan Sibolga
kurang berminat terhadap pelajaran mengarang. Hal ini didasarkan pada
hasil angket. Kelompok pendukung mendapat persentase terkecil, yaitu
16,25%. Sedangkan kedua kelompok lain mendapat persentase sebanyak
82,75%, dengan perincian kelompok bukan pendukung sebanyak 61,25% dan
kelompok acuh tak acuh sebanyak 22,5%.
Ketidakminatan para siswa tersebut didasarkan oleh berbagai macam factor, antara lain:
1. Sulit berbahasa Indonesia yang baik dan benar
Dalam
mengarang, kita dituntut untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar. Pengetahuan siswa yang kurang tentang penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, seperti pembentukan kata, penyusunan
kelompok kata, penyusunan kalimat, serta penguasaan ejaan dan tanda baca
yang baik dan benar menyulitkan siswa untuk bebas mengutarakan isi
pikirannya. Hal ini membuat siswa kurang berminat untuk mengarang.
2. Sulit berimajinasi
Dalam
mengarang, imajinasi sangat dibutuhkan. Namun beberapa siswa sangat
sulit untuk berimajinasi. Sehingga malas untuk mengarang.
3. Sulit menemukan topic/tema
Sebelum mengarang, kita harus menentukan topic atau tema. Topic atau
tema inilah yang menjiwai karangan dan harus dijabarkan dengan
sebaik-baiknya, serta menjadi benang merah karangan dari awal sampai
akhir. Banyak dari siswa yang sangat sulit untuk menemukan topic atau
tema yang akan ia kembangkan menjadi sebuah karangan.
4. Sulit membuat paragrap yang koheren satu sama lain
Karangan
yang baik haruslah memiliki paragraph yang koheren satu sama lain.
Namun, beberapa siswa sangat sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat
untuk mendukung kekoherenan suatu paragraph. Sehingga mereka kurang
berminat untuk mengarang.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Pelajaran mengarang mempunyai kelompok pendukung paling sedikit.
2. Siswa SMA Negeri 1 Unggulan kurang berminat terhadap pelajaran mengarang.
3. Berdasarkan hasil angket yang disebarkan, mereka kurang berminat terhadap pelajaran mengarang karena hal-hal berikut.
• Sulit berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
• Sulit berimajinasi.
• Sulit menemukan topik/tema.
• Sulit membuat paragrap yang koheren satu sama lain.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, penulis menyarankan:
1. Sebaiknya guru yang memberikan tugas mengarang dapat memberikan penjelasan bagaimana mengarang yang mudah dan benar.
2. Hendaknya ada pelatihan khusus tentang karang-mengarang. Sehingga kesulitan-kesulitan siswa dalam mengarang dapat teratasi.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Edukatif. 2006. Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA kelas XI. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Nursisto. 2000. Penuntun Mengarang. Jakarta : Adicita.
Finoza Lamuddin. 2005. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Diksi Insan Media.
Read more...